Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam kelompok BBK 6 Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, sukses melaksanakan program edukasi dan pelatihan pembuatan kompos dengan metode takakura melalui program kerja “Selotapak Beraksi”.
Penanggung Jawab kegiatan “Selotapak Beraksi”, Tahyudin Uzi Safaat, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk implementasi dalam bidang lingkungan melalui pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran warga desa dalam mengelola sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat dan berkelanjutan.
“Program ‘Selotapak Beraksi’ kami rancang untuk menjawab permasalahan pengelolaan sampah yang belum tertangani secara optimal di desa. Melalui pelatihan ini, kami ingin warga memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai metode kompos takakura yang terbukti efektif dalam mengurangi sampah, khususnya sampah organik di lingkungan rumah tangga,” ungkapnya.
Pelatihan Kompos Takakura untuk Ibu-Ibu PKK
Kegiatan edukasi dan pelatihan dilaksanakan pada Jumat (11/07/2025) di Balai Desa Selotapak dan dihadiri oleh 18 orang peserta. Pelatihan ini diawali dengan pemaparan materi mengenai jenis-jenis sampah, manfaat sampah, manfaat kompos, dan pengenalan metode takakura secara visual dan interaktif. Usai sesi materi, peserta diajak praktik langsung melakukan pembuatan komposter takakura dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti keranjang, sekam, starter bioaktivator, dan sampah organik yang sudah dikeringkan. Pelatihan dilakukan secara berkelompok dan dipandu langsung oleh mahasiswa.
“Pelatihan ini sangat cocok untuk masyarakat desa karena mudah, murah, dan bisa dikerjakan di rumah masing-masing,” ucapnya. Ia juga menambahkan bahwa metode ini mampu mengurangi sampah organik sebanyak 50% dan menghasilkan pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk kebun rumah tangga maupun pertanian.
Tantangan, Dampak, dan Harapan Berkelanjutan
Meskipun antusiasme peserta tinggi, Tahyudin mengakui adanya tantangan dalam mengubah kebiasaan lama membuang sampah secara tercampur. Namun demikian, adanya praktik langsung dan pembagian leaflet berhasil meningkatkan pemahaman warga terhadap pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari rumah.
Program ini mendapat apresiasi penuh dari perangkat desa dan penggerak PKK. “Kami berharap setelah pelatihan ini, masyarakat dapat menerapkan pembuatan kompos dengan metode takakura secara mandiri,” Ujar Tahyudin.
Dengan dimulainya pelatihan ini kami berharap Desa Selotapak menjadi contoh desa yang berdaya dalam mengelola sampah dan memanfaatkannya menjadi nilai jual yang tinggi,” Pungkas Tahyudin dengan penuh.
Rekomendasi Halaman Bermain Game Asik Serba Murah



